Mengulas Harga dan Menu Richeese Factory

2 Jun 2017

Kaum waktu yang lalu, aku pergi ke Bandung selama kurang lebih hari molek kedua orangtua saya. Pada jam-jam pra keberangkatan rujuk, saya terkaan memaksa orangtua saya bagi mengunjungi teritori terakhir pra pulang, sambil buka pantang gitu. Tempat itu adalah Richeese Factory, tempat yang sudah sempurna lama hamba incar karena “katanya” chicken wings di sini rasanya benar2 pedas. Plus saya sangkaan di Jakarta tidak ada Richeese Factory, maka saya tdk mau menyia-yiakan kesempatan yang ada.

Saya hidup beberapa persepuluhan menit sebelum jam terangkan puasa. Saat itu tempatnya sudah sempurna ramai dengan pengunjungnya yang sebagian raksasa adalah anak-anak kecil bertepatan orangtuanya, dan anak-anak muda. Untungnya saya masih menjadi tempat hidup untuk ke-2 orangtua aku.

Richeese Factory merupakan restorasi fast-food; membeli di bendaharawan, bayar, dan kemudian makanan refleks disajikan. Lepas kasir tertampang menu-menu target lengkap pada harga & keterangan. Olehkarena itu saat ini sudah merayu jam-jam uraikan puasa, teritori ini heboh sekali, antriannya richeese factory pun jenjang. Saya mengantri selama kurang-lebih 15-20 menit, tapi setelah sampai di depan kasir & memesan, makanannya pun lekas disajikan.

Pastinya semua orang-orang sudah meraba snack-snack Richeese yang saja mengandung keju. Begitu juga pada Richeese Factory, semua persembahan di sini terus-menerus mengandung keju dan ayam.

Keripik tortilla yang dalam atasnya dikasih beef chili dan saus keju. Keripiknya agak liat dan rupanya hambar, beef chili-nya serupa dengan saus bolognaise serta rasanya bukan pedas sedikit pun, saus kejunya cair serta rasanya tdk begitu sedap seperti keju di snack-snack Richeese.

Salad yang terdiri dari paru-paru selada, tomat, jagung yang dipipil, ubi benggala rebus, serta potongan mandung, lalu disiram dengan saus keju dan mayonnaise, dulu ditaburkan parutan keju. Seluruhnya disajikan tenteram, termasuk ayamnya. Rasanya setara seperti salad pada biasanya. Biasanya salad identik menggunakan makanan segar, tapi bahwa salad-nya Richeese ini.. A big “NO” for health.

Sup krim yang bermutu suwiran uci-uci ayam, penggalan kentang dan jagung yang dipipil yang bukan terlalu banyak, lalu ditaburkan keju gores. Kekentalan supnya pas, rasanya juga enak, mungkin sebab MSG-nya juga banyak.

Yang saya amanat ini merupakan fire wings level beginner, alias level 0. Fire wings-nya berukuran cukup luas. Dagingnya tetap, empuk, juga juicy, serta kulitnya kepis. Saus yang melumuri fire wings-nya warna marah kecoklatan. Rasa-rasanya tidak benar pedas serta agak menawan.

Setiap bagian Fire Wings diberikan dipping sauce yang berupa saus keju larutan ala Richeese.

Karena hamba penggemar repot makanan pedas, tanpa waswas saya membeli Fire Wings dengan status ultimate, nama lain level yang paling tinggi, yang paling sengit. Sekilas tiada bedanya secara Fire Wings di bagi, tapi bahwa diperhatikan, saus yang melumangkan ayamnya berwarna merah. Begitu aku cicipi, BENERAN PEDES. Berikut pedasnya beneran, gak kayak restoran anu atau saus sambal merk anu yang ngaku-ngaku pedas tapi setelah dicoba sepertinya gak tersedia pedas-pedasnya. Namun demikian bisa dirasakan kalau pedasnya itu menyakitkan lada, panasnya hanya ketika mulut selalu. Berbeda beserta cabai rawit yang tak pedas di mulut namun demikian panas dalam perut. Sesudah makan ini saya bukan mempunyai peri dengan tembolok saya kok.

Rasa pedasnya begitu mengendalikan sehingga rasa ayamnya tunggal jadi gak terasa. Aku sih suka dengan rasa pedasnya, tapi menghabiskannya ini benar-benar menginginkan perjuangan loh.

Menurut aku sih target selain Fire Wings-nya tidak begitu mengesankan, karena yang paling mengesankan ya Fire Wings-nya tersebut sendiri. Eh, ternyata dalam Jakarta pun ada Richeese Factory. Saat ini saya tdk perlu menyebrangi kota bahwa ingin mencicipi Fire Wings-nya. 7. 5/10!

 

referensi:

http://menuricheese.blogspot.co.id/

https://id.wikipedia.org/wiki/Richeese_Factory


TAGS Kuliner


-

Author

Follow Me


Categories

Archive